
Terengganu— Universitas Islam Pemalang (USIP) memperluas kiprah akademiknya di tingkat internasional melalui partisipasi Dosen dan juga Kepala Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Abdullah Arif,.M.Phil dalam International Conference on Fundamental Studies (ICFS) 2026 di Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA), Malaysia, pada Ahad (4/10/2026).
Dalam konferensi tersebut, Abdullah mempresentasikan karya ilmiah berjudul “Eco-PAI: Reformulating Islamic Religious Education Curriculum in the Anthropocene through Eco-Theology and Local Wisdom in Pemalang Regency, Indonesia.”
Karya ilmiah tersebut mengangkat gagasan pembaruan kurikulum Pendidikan Agama Islam melalui pendekatan ekoteologi dan kearifan lokal. Kajian ini menempatkan pendidikan Islam sebagai salah satu ruang strategis untuk membangun kesadaran ekologis, memperkuat etika lingkungan, dan mendorong kepedulian terhadap keberlanjutan alam.
Tema tersebut relevan dengan tantangan era Antroposen, yaitu periode ketika aktivitas manusia memberikan pengaruh besar terhadap kondisi lingkungan dan sistem bumi. Dalam konteks pendidikan, perspektif ini mendorong pembelajaran agama tidak hanya berorientasi pada pemahaman nilai-nilai keislaman, tetapi juga pada penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjaga lingkungan.
Melalui pendekatan ekoteologi, nilai-nilai Islam mengenai amanah manusia sebagai khalifah di bumi, tanggung jawab menjaga keseimbangan alam, serta larangan melakukan kerusakan dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Sementara itu, kearifan lokal Kabupaten Pemalang menjadi konteks untuk menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan realitas sosial dan lingkungan masyarakat.
Presentasi tersebut menjadi kesempatan bagi USIP untuk memperkenalkan gagasan pengembangan pendidikan Islam berbasis isu lingkungan dalam forum akademik internasional. Kajian yang berangkat dari konteks lokal Pemalang diharapkan dapat menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas mengenai pengembangan kurikulum pendidikan agama yang responsif terhadap tantangan global.
USIP Jadi Co-host ICFS 2026
ICFS 2026 diselenggarakan oleh Universiti Sultan Zainal Abidin sebagai tuan rumah, dengan Universitas Islam Pemalang mendapat kehormatan sebagai co-host. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari penguatan hubungan akademik dan kerja sama internasional antara kedua perguruan tinggi.
Bagi USIP, partisipasi dalam konferensi internasional bukan sekadar kehadiran pada forum akademik luar negeri. Kegiatan ini juga membuka ruang untuk memperluas jejaring penelitian, meningkatkan publikasi ilmiah, serta memperkenalkan potensi akademik perguruan tinggi yang berakar di Kabupaten Pemalang.
Keterlibatan Abdullah sekaligus menunjukkan pentingnya peran dosen dalam membawa hasil penelitian dan gagasan akademik ke ruang diskusi internasional. Sebagai kepala program studi, partisipasinya juga memiliki relevansi dengan pengembangan kurikulum, peningkatan mutu pembelajaran, dan penguatan tradisi penelitian di lingkungan PAI USIP.
Menghubungkan Pendidikan Islam dan Tantangan Lingkungan
Gagasan Eco-PAI menawarkan perspektif bahwa pendidikan agama Islam dapat berkontribusi dalam menjawab persoalan lingkungan melalui pembentukan karakter, penguatan tanggung jawab moral, dan pengintegrasian nilai-nilai ekologis dalam pembelajaran.
Kearifan lokal Pemalang menjadi salah satu titik berangkat untuk mengembangkan model pendidikan yang kontekstual. Dengan demikian, pembelajaran agama tidak berhenti pada penguasaan konsep, tetapi juga mendorong peserta didik memahami hubungan antara ajaran agama, kehidupan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Keikutsertaan dosen PAI USIP dalam ICFS 2026 menjadi bagian dari upaya universitas memperluas kontribusi akademiknya di tingkat regional dan internasional. Langkah ini juga memperkuat arah pengembangan USIP sebagai perguruan tinggi yang mendorong kolaborasi lintas negara, pengembangan ilmu pengetahuan, dan lahirnya gagasan yang berangkat dari kebutuhan masyarakat.
Dari Pemalang, gagasan pendidikan Islam berbasis ekologi dibawa ke forum internasional sebagai bagian dari ikhtiar mempertemukan nilai-nilai keislaman, kearifan lokal, dan tantangan keberlanjutan global.
